Kamis, 30 Januari 2014

Sejarah Rumah Sakit





SEKILAS SEJARAH RUMAH SAKIT PALANG BIRU KUTOARJO


Rumah Sakit Palang Biru Kutoarjo adalah salah satu upaya pelayanan di bidang kesehatan milik Tarekat Suster-Suster Amalkasih Darah Mulia yang dikelola oleh Yayasan Swana Santa. Upaya pelayanan itu sebagai tanggapan para biarawati Amalkasih Darah Mulia di Kutoarjo yang melihat kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan. Pelayanan dimulai + tahun 1952 oleh Sr. Yulita ADM dengan berkeliling dari desa ke desa untuk memberikan pertolongan pada orang-orang sakit yang membutuhkan bantuan.
            Pada tahun 1952 datang Sr. Damiana ADM, seorang perawat kesehatan dari Belanda memulai pelayanannya kepada orang-orang sakit yang datang di Susteran ADM jalan Marditomo 11 Kutoarjo. Pelayanan bertempat di salah satu kamar sederhana dengan satu meja, satu kursi, satu tensimeter, obat-obatan sederhana dan sebuah bangku panjang pasien untuk menunggu giliran. Syukur kepada Allah, tenaga perawat bertambah seorang lagi yaitu Sr. Dolorosa ADM seorang pribumi berpendidikan perawat yang mulai masuk pendidikan biarawati. Maka karya pelayanan mulai berkembang, yang datang bukan saja orang-orang sakit tetapi juga ibu-ibu hamil dan bayi-bayi sakit. Menjawab kebutuhan pelayanan yang semakin berkembang baik secara kuantitatif maupun kualitatif ini, Yayasan merasa perlu mengembangkan sumber daya manusianya, Sr. Damiana ADM ditugaskan belajar kebidanan di RS Carolus Jakarta dan kemudian setelah selesai bergantian Sr. Dolorosa ADM ditugaskan belajar di RS Panti Rapih Yogyakarta.
            Pelayanan kesehatan berkembang terus, dibuka praktek Poliklinik Umum dan pertolongan persalinan. Suster menerima pasien persalinan Rawat Inap, juga melayani panggilan menolong persalinan di rumah. Kegiatan perawatan dilakukan di komplek Susteran satu kamar untuk persalinan, satu kamar untuk perawatan bayi dan satu kamr lagi untuk Poli Umum merangkap kamar tamu.
            Pelayanan kesehatan kini dikenal/berubah menjadi Rumah Bersalin/balai Pengobatan yang oleh masyarakat Kutoarjo dan sekitarnya dengan sebutan RB / BP Palang Biru. Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan semakin meningkat sehingga diperlukan tambahan sarana dan prasarana yang memadai. Maka pada tahun 1963 atas usaha Bapak Budiman, RB/BP Palang Biru mendapat bantuan dari Yayasan Dana Bantuan Indonesia untuk menambah bangunan gedung di komplek Susteran. Gedung ini kemudian dipergunakan untuk pelayanan Poliklinik Umum dan BKIA, asrama puteri (perawat dan guru karyawan Yayasan) serta untuk perawatan bayi dan titipan anak yatim piatu, premature. Sekitar tahun 1965 sesudah peristiwa G30S/PKI jumlah masyarakat yang datang ke poliklinik sangat menurun, sehingga pelayanan orang sakit dan ibu hamil dilaksanakan di tengah-tengah masyarakat bersamaan dengan kunjungan ke stasi-stasi (pos kunjungan). Stasi yang pernah dikunjungi :
1.     Wirosobo dan Semayu : beberapa kali
2.     Wingko dan Ringgit : pengobatan penyakit umum sampai tahun 1973 (selanjutnya disana telah berdiri Puskesmas)
3.     Ngandagan :
 a. 1965 – 1975   : penyakit umum, kadang juga menolong persalinan.
 b. 1980 – 1982   : penyakit umum
 c. 1985 mulai diadakan kursus kader kesehatan dari masyarakat Ngandagan, berlangsung di Palang Biru di bawah pimpinan dr. Harun Rusito, penanggung jawab medis RB Palang Biru Kutoarjo. Kader – kader kesehatan tersebut banyak mengupayakan usaha pembangunan masyarakat, antara lain :
- Usaha dana sehat
- Mengadakan pos obat sederhana
- Pengadaan air bersih, kerjasama dengan pemerintah setempat dan Puskesmas dibantu dari Lembaga Penelitian dan Pembangunan Sosial Jakarta.
- Lingkungan rumah sehat dengan pemasangan genting kaca, WC sehat atau jamban keluarga.
- Melayani pembuatan jamban keluarga di tempat lain, baik pesanan maupun mendidik kelompok lain.
- Usaha bersama dengan menanam kacang.
- Usaha simpan pinjam bersama.
Kegiatan-kegiatan ini berlangsung sampai dengan tahun 1988. Selanjutnya palang Biru non aktif dalam membimbing kader berhubung kader stasi telah dilebur dan masuk menjadi kader desa di bawah bimbingan langsung dan penuh dari dokter Puskesmas setempat.
            Sementara itu ( 1965 – 1972 ) kegiatan penimbangan di BKIA berlangsung terus di Unit Palang Biru Kutoarjo dengan adanya bantuan berupa susu, bulgur, jagung untuk anak-anak, bayi-bay, karyawan dan anak-anak asrama.            Pada tahun 1972 Pimpinan Kongregasi Suster-Suster ADM mengusahakan dana untuk membeli tanah dan membangun gedung baru guna memindahkan tempat persalinan dan perawatannya yang sudah tidak memadai lagi. Pada tahun 1973 bangunan selesai, RB/BP dipindahkan ke tempat yang baru sampai sekarang di jalan Marditomo No. 17 Kutoarjo.
            Perkembangan kebutuhan pelayanan kesehatan terasa dari semula RB hanya melayani ibu-ibu bersalin dan merawat bayi serta penitipan bayi-bayi premature dan sakit. Tetapi sejak tahun 1980 kadang-kadang terpaksa harus menerima penitipan bayi sakit dengan penyakit ringan, misalnya diare. Lama kelamaan meningkat lagi, banyak orang sakit datang mendesak minta opname baik pasien perempuan maupun pasien laki-laki.
Keadaan ini memaksa pengelola untuk mengambil sikap. Meneruskan pelayanan sebagai RB/BP atau meningkatkan status sebagai Rumah Sakit Umum. Pada awal tahun 1990, Sr. Paula ADM menjelajahi kemungkinan peningkatan status ini dengan mengadakan studi kelayakan.
            Pada tahun 1995 usaha meningkatkan status ini diteruskan oleh Sr. Sili Bouka ADM melalui upaya yang memeras tenaga dan perhatian. Setelah Yayasan Swana  Santa  memilih untuk mendukung peningkatan status maka diadakan studi kelayakan yang dilaksanakan dengan bantuan ahli dari PERDHAKI dan diproseslah permohonan perubahan status kepada Kanwil Departemen Kesehatan Jawa Tengah di Semarang.
            Akhirnya pada tanggal 5 Pebruari 1997 terwujudlah cita-cita Yayasan, keluar izin sementara Rumah Sakit untuk jangka waktu 6 (enam) bulan. Dan per 5 Agustus 1997 izin sementara I telah diperpanjang sampai 5 Pebruari 1998 kemudian diperpanjang sampai dengan 5 Agustus 1998.
Perjalanan masih panjang dan tanggal 30 Oktober 1998 keluarlah izin tetap Rumah Sakit yang harus diperbaharui dan dipertanggung jawabkan keberadaannya 5 tahun kemudian.
Dan sesuai dengan diterimanya ijin tetap penyelenggaraan sarana kesehatan maka hari jadi Palang Biru adalah tanggal 30 Oktober. 

0 komentar:

Posting Komentar